Rumah Batik Siti Hajir, Membuat Batik dengan Pewarna Bahan Alam

Batik merupakan salah satu bagian warisan karya seni budaya luhur Bangsa Indonesia, yang dapat memberikan nilai positif baik dari segi ekonomi dan budaya serta memiliki keunikan serta kekhasan yang menjadikannya mampu bertahan hingga saat sekarang di tengah derasnya globalisasi dunia. Industri kerajinan batik di Indonesia sudah terbukti selama ratusan tahun dapat memberikan penghidupan ekonomi bagi para penggiatnya.

Keunikan Batik Jambi terletak pada kesederhanaan pewarnaan dan motif yang khas, yaitu bentuk motif yang tidak berangkai (ceplok-ceplok) dan berdiri sendiri-sendiri. Pemberian nama pada motif batik Jambi, diberikan pada setiap satu bentuk motif, seperti motif Duren Pecah, Angso Duo Bersayap, Batang Hari, Kapal Sanggat, Bungo Pauh, Tampok Manggis, Merak Ngeram, Candi Muara Jambi, Puncung Rebung, Kaca Piring dan lain sebagainya.

Merah adalah identitas warna batik asal Jambi karena hampir setiap produksi batik Jambi memerlukan paduan warna merah. Inilah yang dilakukan olah Siti Hajir, pemilik usaha Rumah Batik Siti Hajir yang memanfaatkan bahan alam yang ada di sekitar rumahnya sebagai pewarna batik.

Berbagai Macam Jenis Batik Jambi [sumber: Sumber Gambar]

Bagi kanti-kanti yang belum tahu, sebagian besar pewarnaan batik Jambi diambil dari bahan-bahan alami yang ada di alam, yaitu campuran dari aneka ragam kayu dan tumbuh-tumbuhan, seperti getah kayu lambato dan buah kayu bulian, daun pandan, kayu tinggi, dan kayu sepang.

Siti Hajir sendiri biasanya menggunakan jengkol dan serbuk kayu bulian yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan warna coklat, rebusan daun jambu dan warna kuning dari rebusan nangka untuk memberikan warna krem, dan lainnya

Namun, di sinilah kendalanya. Mendapatkan bahan alam untuk pewarnaan terutama warna merah sekarang cukup sulit dan proses pengerjaan menggunakan bahan alam jauh lebih lama dibanding bahan lain. Prosesnya sendiri dimulai dari kain yang direndam dalam guci berisi air rebusan tanaman yang bisa dikerjakan hampir dalam waktu seminggu dan berulang-ulang.

Lantas mengapa Siti Hajir tetap membuat batik dengan pewarna bahan alam? Harga kain batik dengan pewarna alam dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. Kira-kira, selisihnya bisa mencapai Rp100.000 – Rp200.000 per meter jika dibandingkan batik yang diberikan pewarna menggunakan bahan kimia.

Terlebih, selain limbahnya ramah lingkungan, dengan menggunakan bahan alam akan memberikan kesan elegan. Hasil warnanya juga lebih indah karena menggunakan bahan alam.

Proses Pewarnaan Batik [Sumber Gambar]

Bagi kamu yang ingin melihat beberapa batik yang dibuat di rumah batik Siti Hajir, lihat di sini.

Lokasi Rumah Batik Siti Hajir

Tulisan ini diedit oleh : Reiki Nauli Harahap | Referensi featured image

Related posts

Pahlawan nan Pejuang dari Bumi Jambi Bagian (1)

Haviz Kurniawan

Rifdatul Khoiro, Memperkenalkan Jambi Lewat Fashion

Reiki Nauli

Henvega Franius, Kreator Fotografi Landscape Jambi

Arya Adhitya

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More