Aksara Incung, Aksara Kuno Kebudayaan Sastra Kerinci

Aksara incung merupakan aksara kuno yang berasal dari peradaban tua masyarakat Kerinci. Tidak banyak daerah yang memiliki aksara ‘sendiri’ seperti aksara incung. Untuk di Pulau Sumatera, aksara incung merupakan satu diantara empat aksara yang diketahui. Keempat aksara itu yaitu Aksara Incung dari Kerinci, Aksara Abugida dari Batak, Aksara Rejang dari Bengkulu dan Aksara Alas dari Gayo.

Aksara incung diperkirakan mulai dipakai sejak zaman sesudah adanya prasasti Sriwijaya dari abad ke-7 di Karang Berahi Kabupaten Merangin yang bertuliskan Pallawa. Hal ini karena sebelumnya tidak pernah ditemukan benda peninggalan yang bertulisan di sekitar Kerinci kecuali aksara Pallawa tersebut.

Namun pernyataan ini hanyalah perkiraan saja dan sebagai acuan bagi kita semua. Untuk kepastian waktu awal penggunaan aksara incung dibutuhkan penelitian yang mendalam. Yang jelas aksara Pallawa memang menjadi aksara awal yang berkemang pada peradaban tua masyarakat Indonesia.

Penulisannya sendiri ditulis pada media seperti kulit kayu, tanduk kerbau, tanduk sapi, kulit kayu, daun lontar, bambu dan kertas. Menurut catatan, 10% aksara incung yang dituliskan di media tanduk dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Diperkirakan tulisan aksara incung di tanduk tersebut sudah ada sebelum abad ke-19.

Related posts

Tugu Juang, Monumen Perjuangan Rakyat Jambi Melawan Belanda

Arya Adhitya

Animasi Rang Kayo Hitam, Perlawanan Kerajaan Jambi terhadap Kerajaan Mataram

Arya Adhitya

Tapa Malenggang, Ikan Khas Bersejarah dari Bumi Batanghari

Haviz Kurniawan

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More